Bontang Tumbuh dan Berkembang Bersama Duo Raksasa PKT dan PTB

Gravatar Image
  • Whatsapp
Kawasan Industri Kota Bontang

Bontang Tumbuh dan Berkembang Bersama Duo Raksasa PKT dan PTB  –  (Oleh: Eko Yulianto – Walikota LIRA Kota Bontang)

Bontang, LiraNews – Tidak dapat dipungkiri peran besar PT. Pupuk Kaltim Tbk dan PT. Badak Ngl dalam proses perkembangan Kota Bontang menjadi seperti saat ini. Bermula hanya dari sebuah perkampungan kecil di pesisir laut selat Makassar, sekarang bisa berubah total menjadi Kota Industri yang maju dan modern. Saya lahir di Blitar, tanggal 6 Mei 1976 dan menginjakkan kaki pertama kali di Pulau Kalimantan pada tahun 1984 saat masih kelas 4 SD karena mengikuti kedua orang tua berangkat mengadu nasib merantau di Kota Bontang. Dulu ketika awal tiba saya merasa heran dengan daerah ini, sebagai anak kampung dari pelosok Kota Blitar saya melihat perbedaan yang sangat menyolok ketika memasuki kota ini. Sekolah saya yang baru SD Negeri 040 Bontang terasa aneh, dengan bentuk bangunan panggung dari kayu, berdinding papan, lingkungan yang gersang, panas, berdebu, dan penuh ilalang. Pemandangan yang sangat kontras dengan sekolah saya dulu di Blitar yang lebih megah, berdinding tembok dan lingkungan yang asri. Walaupun sekolah saya itu letaknya dipelosok desa yang sepi dan tidak seramai Kota Bontang.

Papan Peresmian Balai Pertemuan Umum Bontang

Bila malam tiba kita bisa melihat keramaian di sekitar Bioskop Bontang Baru yang sekarang menjadi Toko Buku Azis dan daerah paling ramai saat itu ada di Pasar Senggol Berbas, dan Loktuan, disana ada Bioskop Wira II yang mengundang keramaian, disamping itu ada Berbas Pantai yang sangat terkenal dengan tempat hiburan malamnya Prakla. Film layar lebar yang sering diputar saat itu adalah film India, film laga musik Rhoma Irama dan film laga horor dengan bintang-bintang seperti Suzana, Eva Arnaz, Barry Prima, Advent Bangun dll.

Hiburan lainnya yang bisa kita nikmati adalah ketika ada acara resepsi pernikahan di Balai Pertemuan Umum (BPU) yang lokasinya di Jl. R.Soeprapto (ex.Jl.Diponegoro) saat ini telah berubah menjadi Dealer Suzuki diseberang RS.Amalia. Di gedung itulah sering diadakan berbagai acara yang menampilkan hiburan Band lokal, lengkap dengan penampilan artis-artis yang siap memanaskan suasana. Saya sering melihat karyawan PKT mengadakan resepsi pernikahan di gedung itu. Sementara itu siaran televisi yang bisa ditangkap hanya TVRI, itupun kami harus melihat televisi hitam putih milik tetangga. Siaran favorit saat itu adalah serial drama “Oshin” dari Jepang, disamping film boneka Si Unyil yang jarang sekali saya lewatkan setiap hari minggu pagi.

Yang menarik adalah ketika ada kerabat yang bekerja dan tinggal di lingkungan PTB atau PKT mengajak kami menginap dirumahnya, kami sangat kegirangan. Bagi kami saat itu masuk ke lingkungan perumahan perusahaan serasa pergi liburan ke kota besar. Karena di sana kami bisa berenang di kolam renang, menonton TV berwarna chanel luar negeri, menikmati suasana kota yang bersih dan tertata rapi, bisa belanja ke minimarket, dan ketika pulang ke kampung Bontang dibawain oleh-oleh khas roti bantal yang besar dan panjang. Tidak heran jika saat itu karyawan PTB yang bermukim diperumahan tersebut, menyebut kami tinggal di kampung, karena memang kondisinya masih sangat sederhana dan memprihatinkan. Saat itu melihat PTB seperti Singapore, PKT seperti Kuala Lumpur, sementara Bontang hanyalah sebuah kampung yang penuh dengan lumpur.

Di pagi hari selepas shubuh walaupun keadaan masih gelap gulita, jalan-jalan sudah sangat ramai dipenuhi oleh karyawan proyek bersepatu safety dan mengenakan helm. Bus perusahaan hilir mudik menjemput mereka, di beberapa titik lokasi toko-toko mulai buka. Namun yang lebih banyak lagi adalah penjual makanan yang mulai menawarkan dagangannya, berbagai menu khas menghiasi lapak-lapak mereka yang sederhana itu, seperti nasi kuning, lontong sayur, mihun, donut, bakpau, dll. Perputaran uang sangat tinggi dan menurut orang tua saya, saat itu mencari uang di Kota Bontang sangatlah mudah.

Salah satu sudut lokasi di Loktuan

Pusat pemerintahan berada di kantor Camat Bontang yang lokasinya sekarang menjadi Mall Ramayana, di lokasi itu terdapat perkantoran, perumahan pegawai, kantor Orari, lapangan bola volly, dan rumah dinas kepala kantor camat Bontang. Ibukota kabupaten berada di Tenggarong Kutai, dan Ibukota Provinsi Kalimantan Timur berada di Samarinda. Bisa dibayangkan untuk urusan surat-menyurat dengan pemerintahan saja kita harus menempuh perjalanan yang sangat panjang, sebagai contoh untuk menuju kota terdekat Samarinda, maka dapat ditempuh lewat jalur laut dengan menggunakan KM. Sapulidi melalui pelabuhan Tanjung Laut, dengan waktu tempuh sekitar 8 jam kita harus bersedia terkatung-katung diatas kapal. Bisa dipahami karena saat itu belum ada jalur darat yang menghubungkan antara kota Bontang dengan Samarinda seperti saat ini.

Selepas sekolah hoby saya adalah bersepeda, dengan menggunakan sepeda BMX saya menelusuri jalan-jalan di Kota Bontang yang saat itu lebih banyak masih berupa jalan tanah, ketika panas terik berdebu dan ketika hujan becek dan licin, serta penuh dengan kubangan dimana-mana. Jalan-jalan utama sudah dilakukan pengerasan dengan batu, bahkan dibeberapa bagian sudah diaspal, akan tetapi jalan-jalan tersebut kondisinya rusak parah dan masih terdapat banyak kubangan disepanjang jalan utama tersebut. Saya masih ingat kubangan besar yang tidak pernah bisa diperbaiki karena selalu muncul lagi ada di depan Toko Gunung Mas Bontang Baru dan di depan Toko X-Toys Gunung Sari.

Alat transportasi utama saat itu adalah Ojek motor, angkutan umum seperti taxi atau angkot belum ada, kalo tidak salah baru sekitar tahun 90an muncul angkot dengan jumlah yang sangat terbatas, perusahaan angkot yang terkenal saat itu adalah CV.Bone Indah Jaya dan CV.Nilam Jaya Perkasa, saya ingat betul karena itu yang tertulis di badan kendaraan. Pada masa kejayaan angkot mereka sangat ditunggu kedatanganya, pernah suatu ketika saya dengan ibu dan adik-adik berniat beli baju ke Pasar Senggol Berbas, dari selepas dhuhur kami sudah disuruh mandi dan berpakian rapi, setelah itu tugas saya menunggu angkot di depan rumah yang lokasi rumah kami saat itu di samping Hotel Grand Raodah, dari sekitar jam dua siang saya menunggu angkot yang melintas dari arah KM.6 tidak ada satupun yang lewat, sampai hampir jam empat sore akhirnya baru ada yang lewat dan kami berhasil menaiki angkot tersebut, jalan-jalan lebih banyak didominasi oleh sepeda motor, truk pasir dan pick up, mobil pribadi sangat jarang, yang banyak bersliweran adalah mobil perusahaan seperti Bus, Kijang Kotak, & Toyota Hard Top. Merk Sepeda Motor yang sangat familiar saat itu adalah Honda, sampai-sampai setelah masuk merk sepeda motor lain seperti Yamaha dan Suzuki orang Bontang menyebutnya tetap sebagai Motor Honda. Unik bukan? orang Bontang memang sudah unik dari dulu kala.

Bontang Kuala adalah tempat yang sangat mengesankan bagi saya, sebagai anak desa dari pelosok kota Blitar, saya belum pernah melihat laut, dulu waktu di kampung halaman saya biasa bermain air di kolam atau sungai besar yang airnya berwarna coklat. Saya baru tahu kalo air laut itu berwarna biru ketika berada di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sesaat sebelum naik kapal Pelni KM.Kambuna, ditengah antrian penumpang yang berdesakan, saya sempat tertegun melihat air laut dibawah tangga kapal yang berwarna biru. Karena penasaran sampai di atas kapal pun saya masih berusaha mencari lokasi yang nyaman untuk melihat laut. Saat itu saya baru melihat sendiri laut itu benar-benar sangat luas terbentang, tidak pernah terbayangkan sebelumnya, apalagi ketika kapal sudah mulai bergerak perasaan campur aduk antara sedih meninggalkan teman-teman bermain di kampung halaman, ditambah lagi dengan rasa penasaran terhadap pulau Kalimantan. Dari cerita orang di kampung yang pernah ke Kalimantan, ada satu yang membuat saya takut dan ngeri berada di Kalimantan, yaitu bertemu dengan orang Dayak bertelinga panjang yang konon katanya pemakan manusia. Di kampung sudah beredar cerita dari mulut ke mulut jika perantau asal Jawa yang bekerja di perusahaan kayu sudah ada yang menjadi korban dimangsa orang Dayak. Saat itu saya berdoa mudah-mudahan kelak kalo sudah sampai di pulau Kalimantan, saya tidak akan pernah bertemu dengan orang Dayak yang mengerikan itu. Namun setelah dewasa barulah saya tahu bahwa ternyata kawan-kawan saya dari Suku Dayak orangnya sangat baik dan ramah, mereka sangat menjaga adat istiadat para leluhur dan hormat kepada tamu yang dianggapnya seperti saudara, tidak seperti yang pernah di gambarkan oleh orang-orang di kampung saya itu.

Salah satu sudut lokasi di Bontang Kuala

Saat itu jika saya mau pergi ke Bontang Kuala dengan mengendarai sepeda, hanya di pangkalan ojek simpang empat Toko Kenari saja yang ramai, selebihnya yang nampak hanyalah rumah-rumah panggung di kiri dan kanan jalan yang masih sangat jarang. Sebagian besar masih berupa tanah-tanah kosong yang ditumbuhi Ilalang, apalagi setelah melewati kuburan Muslimin Bontang Kuala, hanya ada satu rumah kosong kecil di depan Masjid Tua yang sudah tidak terawat lagi, dengan cerita horor yang menyelimutinya, konon kabarnya rumah itu dihuni oleh hantu Kuntilanak sehingga saya akan menambah kecepatan jika melewati rumah itu, terlebih jalanan menuju Bontang Kuala saat itu tidak terlalu lebar, penuh lobang dan genangan air, yang membuat saya agak tenang karena sesekali terdengar suara kapal motor yang melintas di Sungai Kecap disebalah jalan, saat itu masih banyak warga yang menggunakan jalur sungai dari Bontang Kuala atau sebaliknya menuju Bontang Baru, dengan menyusuri anak sungai tersebut.

Hal lain yang membuat kagum adalah di sepanjang jalan menuju Bontang Kuala masih sering saya jumpai monyet ekor panjang, mereka berlompatan diantara pepohonan di kiri dan kanan jalan yang masih sangat rimbun oleh semak belukar. Kadang-kadang juga bisa kita jumpai gerombolan babi hutan yang menyeberang jalan, bahkan saya bisa melihat dengan jelas babi jantan yang besarnya seperti anak kerbau dengan taring yang panjang memimpin gerombolan itu, mereka tidak takut melihat manusia, bahkan terlihat beberapa ekor babi dengan tenang sempat minum air dari kubangan disitu.

Jalan aspal menuju Bontang kuala hanya sampai di lokasi yang sekarang terdapat SD Negeri 001 Bontang Kuala, selebihnya jalanan setapak menyempit yang dikiri-kanannya terdapat hutan bakau yang masih sangat lebat. Waktu itu Bontang Kuala adalah kampung nelayan yang sangat ramai, mungkin bisa di katakan sebagai salah satu pusat keramaian Kota Bontang, selain di Berbas, Tanjung Limau dan Loktuan. Bila sore hari kita bisa melihat anak-anak bemain air mandi dilaut, dan disitulah pertama kalinya saya merasakan air laut yang asin ketika ikut berenang bersama kawan-kawan sekolah disana.

Ada satu pidato kepala sekolah SD Negeri 040 yang masih saya ingat sampai sekarang, pidato dari Bapak H.M. Kaldak yang sangat bersemangat saat upacara bendera hari senin pagi, dengan bangga menyampaikan kepada kami murid-muridnya bahwa kecamatan Bontang akan berubah menjadi Kota administratif, walaupun saat itu kami kurang mengerti namun yang terbayang adalah peningkatan pembangunan dan perbaikan infrastruktur khususnya jalan-jalan protokol yang rusak parah dan penuh kubangan berlumpur.

Drs. H. Ishak Karim – Walikota Admisnistratif Kota Bontang

Walikota Administratif saat itu adalah Bapak Ishak Karim, yang selanjutnya digantikan oleh Bapak Fachmurnidin, pada masa kepemimpinan beliau Bontang menjadi salah satu daerah hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai menjadi Kota Bontang. Namun sangat disayangkan walaupun telah berganti walikota dua kali pembangunan masih belum banyak dilakukan sehingga wajah Kota Bontang belum banyak mengalami perubahan, baru setelah masa pemerintahan Bapak Facmurnidin berakhir dan digantikan oleh Bapak dr.H.Andi Sofyan Hasdam, S.Ps, pembangunan infrastruktur khususnya jalan-jalan protokol mengalami perubahan yang signifikan. Saya masih ingat saat itu bapak saya dan beberapa orang tetangga menanam pohon pisang di salah satu kubangan didepan rumah, tepatnya di Jl.Diponegoro yang letaknya di sekitar Hotel Raodah. Tidak lama kemudian dibawah pemerintahan yang baru hampir seluruh jalan protokol di Kota Bontang berhasil di aspal hotmix dan dibuat dua jalur dengan taman pemisah ditengahnya, perubahan ini sangat dinantikan oleh masyarakat yang sudah puluhan tahun menderita karena pembangunan yang tidak merata.

Peran Perusahaan duo raksasa PKT dan PTB sangat besar dalam perjalanan Kota Bontang menjadi kota modern, terlebih sekitar tahun 90an bertambah satu lagi dengan hadirnya adik ketiga yaitu Perusahaan Tambang PT. Indominco Mandiri (IMM)/Banpu yang memberikan dampak positif bagi perkembangan Kota Bontang selanjutnya. Berbagai macam bantuan selalu mengalir kepada masyarakat Kota Bontang dan sekitarnya, tidak pernah terputus dan jumlahnya senantiasa terus bertambah dari waktu ke waktu, tidak terhitung jumlah bantuannya seperti  bantuan hari besar keagamaan, bantuan fisik pembangunan, bantuan keuangan, bantuan sosial untuk warga miskin dan masih banyak lagi, siapapun orangnya yang sudah lama bermukim di kota Bontang pasti merasakan hal yang sama dengan yang saya alami.

Saya adalah alumni Lolapil (Loka Latihan Keterampilan) yang diadakan oleh PKT, disamping itu ada puluhan orang kawan saya adalah penerima bantuan modal usaha PUKK dari PKT, bahkan diantaranya masih ada yang menunggak sampai sekarang, orang tua saya adalah pelanggan air bersih selama bertahun-tahun gratis tidak pernah bayar dari PTB sebelum akhirnya mulai membayar setelah dihibahkan ke pemerintah Kota Bontang dibawah perusahaan air minum PDAM. Beberapa kali saya menjadi pengurus panitia khitanan massal yang diadakan oleh perusahaan, berbagai macam bentuk bantuan yang digelontorkan oleh kedua perusahaan sudah tidak terhitung lagi jumlahnya, untuk itu patut kita syukuri bersama, PKT, PTB dan IMM adalah asset kita bersama, asset masyarakat Kota Bontang yang terdiri atas berbagai macam suku, adat dan budaya, maka sudah sepatutnya kita jaga bersama-sama. Semoga bermanfaat dan mencerahkan, terima kasih.

(eko/LN/Kaltim)

Related posts